Senin, 12 Januari 2009

Politik “Hitung Dagang”


.... jika politik sudah dianggap sebagai sebuah hitung dagang maka tidak akan mungkin pihak-pihak yang terlibat didalamnya akan memperhatikan nasib rakyatnya, karena yang terpikirkan pertama kali adalah bagaimana cara mengembalikan dan memperoleh keuntungan dari modal yang telah dikeluarkannya tersebut.

Kalimat tersebut di atas barangkali patut untuk direnungkan bersama, negeri ini yang sedang berada dalam euphoria kampanye pemilu sebenarnya telah lama terperangkap dalam kondisi politik “hitung dagang” dan sepertinya kondisi tersebut telah memberikan tingkat keuntungan yang lumayan, sehingga banyak pihak yang tertarik untuk ikut dalam bisnis politik tersebut. Banyak sekali partai di negeri ini bermunculan dan hampir semuanya meneriakkan visi dan misi yang klise untuk didengar.

Jumat, 09 Januari 2009

Kampanye Politik “Bertumbal” Rakyat


Masa menjelang Pemilu di negerikoe adalah saat-saat yang “membahagiakan” sekaligus menyedihkan bagi rakyat. Kondisi tersebut seperti pisau bermata dua yang tidak memiliki pilihan yang mengenakkan bagi rakyat di negeri ini. “Membahagiakan”, karena pada masa tersebut rakyat adalah seperti “anak emas” yang diperebutkan dan dimanjakan oleh semua partai politik di negeri ini dengan janji-janji manisnya. Menyedihkan, karena pada masa tersebut rakyat selalu dijadikan “tumbal” oleh partai-partai politik untuk melampiaskan “syahwat” duniawinya.

Pengertian dasar dari tumbal itu sendiri adalah sesuatu (yang memiliki jiwa) yang dikorbankan secara rutin berdasarkan periode waktu tertentu untuk meraih sebuah “kemenangan”. Di negerikoe tumbal para partai politik pada saat menjelang Pemilu itu “bernama” rakyat. Para politikus di negeri ini sepertinya tidak memperdulikan berapa banyak uang yang dikeluarkan agar dapat “menjerat” rakyat untuk dijadikan tumbalnya, karena dengan tumbal tersebut mereka sangat meyakini dapat memperoleh kekayaan, kekuasaan, kejayaan yang berlipat ganda nantinya.

Ketika Celoteh Itu Sekian Lama Menghilang ……

....entah kenapa celoteh anak negeri itu tiba-tiba saja bisa menghilang
menghilanglah karena memang benar sang celoteh telah menghilang
menghilang dalam batas tepi riuhnya nada-nada sumbang si pendurjana jelata
menghilang saat celoteh itu telah mulai merajut untaian kata bagi sang jelata
ataukah sang celoteh telah berada dalam ayunan pendulum antara ada dan tiada
mungkinkah sang celoteh merasakan kebisingan acapela janji kepada jelata yang dinyanyikan oleh para pembual
celoteh itu memang sudah sekian lama menghilang
....entah kenapa celoteh anak negeri itu tiba-tiba saja bisa menghilang

Jumat, 05 September 2008

Iklan Kampanye


Era informasi dan komunikasi yang begitu pesat saat ini rupanya telah merasuki kehidupan berpolitik di negeri ini. Sajian berita dan informasi tentang perkembangan politik yang telah dan sedang terjadi serta estimasi yang akan terjadi di masa mendatang dapat kita nikmati di berbagai media (cetak dan elektronik). Tapi yang lebih menarik adalah munculnya iklan-iklan kampanye yang menonjolkan sosok/figur sesorang yang dianggap mampu dan layak untuk memimpin (baik daerah maupun nasional). Coba saja kita luangkan waktu untuk menikmati iklan-iklan di televisi, maka beberapa diantaranya pasti muncul iklan kampanye tersebut terutama pada saat prime time.

Politikus Kutu Loncat


Masa pemilihan umum di negeri ini sering menyajikan episode-episode yang sangat menarik bagi kita terutama yang terkait dengan tingkah polah para pihak-pihak yang memiliki kepentingan pada pemilu tersebut baik secara pribadi maupun golongannya. Salah satu episode yang perlu kita simak kali ini adalah fenomema sebagian politikus di negeri ini yang berperilaku sebagai “kutu loncat”. Istilah ‘kutu loncat” tersebut muncul untuk menyebut para politikus yang berpindah dari partai satu ke partai lainnya atas inisiatifnya sendiri. Tentu saja kita sebagai penonton episode tersebut tidak tahu secara pasti tujuan yang paling hakiki dari para politikus “kutu loncat” tersebut sehingga bermigrasi ke partai lainnya.